Menoreh dan Borobudur

February 20, 2018

Pegunungan Menoreh

Pegunungan Menorèh adalah kawasan pegunungan yang membentang di wilayah barat Kabupaten Kulon Progo di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, sebelah timur Kabupaten Purworejo, dan sebagian Kabupaten Magelang di Provinsi Jawa Tengah; sekaligus menjadi batas alamiah bagi ketiga kabupaten tersebut. Puncak tertinggi di Pegunungan Menoreh berada di Gunung Ayamayam yang memiliki ketinggian lebih dari 1.021 meter diatas permukaan air laut.

Pegunungan Menoreh dikenal dalam sejarah sebagai basis pertahanan Pangeran Diponegoro bersama para pengikutnya dalam Perang Jawa (1825–1830) melawan Hindia Belanda. Salah satu puteranya yang bernama Bagus Singlon atau Raden Mas Sodewo (putera Pangeran Diponegoro dengan R.Ay. Mangkorowati) memimpin perlawanan di wilayah ini. Raden Mas Sodewo atau Ki Sodewo bertempur di wilayah Kulonprogo mulai dari pesisir selatan sampai ke Bagelen dan Samigaluh.

Daerah Pegunungan Menoreh secara geomorfologis mempunyai bentuk lahan yang kompleks. Kompleksnya kondisi fisik daerah Pegunungan Menoreh adalah adanya proses endogenik dan eksogenik yang bekerja pada berbagai batuan hingga membentuk bentang lahan yang ada saat ini. Beberapa batuan ditemukan antara lain: batu pasir, napal pasiran, batu lempung, dan batu gamping pada Eosen Tengah; batuan andesit, breksi andesit dan tuff yang merupakan hasil aktivitas Gunung api Menoreh pada Oligosen; batu gamping dan koral yang terendapkan pada Miosen Bawah; dan material koluvium yang terendapkan pada Zaman Quarter.

Pesona alamnya hampir serupa dengan Gunung Sewu. Kawasan Pegunungan Menoreh Geopark meliputi ratusan bukit-bukit, ngarai, sungai, air terjun, goa, hutan, telaga, satwa, tumbuhan dan lain sebagainya tentunya sangat khas. Bila dicermati sungguh menarik Pegunungan Menoreh itu, di cagar alamnya terdapat keanekaragaman flora dan fauna. Jika beruntung Anda akan menjumpai fauna langka seperti burung Kacer, Elang Jawa, kera, blacan, ayam alas, landak, biawak, dan lainnya. Sedangkan flora khasnya seperti manggis, durian Menoreh, buah naga, pohon pinus, cengkeh, dan lain sebagainya. Berharap kelestarian alamnya tetap terjaga dan tetap bertahan sebagai kawasan konservasi.

Letak Pegunungan Menoreh sebagian besar di Daerah Istimewa Yogyakarta wilayah Kulonprogo, lainnya lagi perbatasan Jawa Tengah daerah Purworejo dan Magelang. Sebagian besar merupakan cagar alam yang kaya keanekaragaman hayati, sebagian lagi menjadi pemukiman, dan dijadikan obyek wisata.

Tempat-tempat istimewa itu mempunyai kisah cerita tersendiri, seperti sejarah menariknya ataupun legenda cerita rakyat folklorenya. Dahulu kala di Perbukitan Menoreh dikenal dalam sejarah sebagai basis pertahanan Pangeran Diponegoro bersama pengikutnya. Trend kunjungan wisata ke Kulonprogo pun terus meningkat drastis dari waktu ke waktu. Pegunungan Menoreh ketenarannya kini mulai dikenali banyak khalayak dan populeritas destinasi wisatanya pelan-pelan mulai mengikuti taman bumi Gunung Sewu Geopark yang ada Gunungkidul, Gunung Batur Geopark Bali, dan Gunung Rinjani di Lombok. Sebagian untuk pemukiman, sebagian besarnya cagar alam, dan sebagian kecilnya menjadi obyek wisata menarik seperti yang sudah terkenal diantaranya Wisata Alam Kalibiru, Pule Payung, Puncak Suroloyo, Ayunan Langit, Sungai Mudal, Air Terjun Kedung Pedut, Kembang Soka, Kebun Teh Nglinggo, Goa Kiskendo, Hutan Pinus Girimulyo, dan wisata baru tersembunyi lainnya.

Di kawasan Perbukitan Menoreh tak hanya kaya akan pesona wisata alam, tetapi juga kaya akan wisata budaya khas daerah. Kearifan lokal masih lestari, terus diperkenalkan dan dipopulerkan. Kehidupan masyarakat daerah setempat dengan keramahannya, kesenian daerah, souvenir kerajinan tangan, kuliner khas Kulonprogo, hingga festival budaya lainnya. Paling terkenal oleh-oleh khas Kulonprogo ialah jajanan Geblek. Setiap tahunnya ada agenda Festival Durian Kulonprogo di Banjaroya Kalibawang, durian Menoreh. Sedangkan tari khas Kulonprogo adalah tari Angguk.

Selain destinasi wisata alam dan atraksi budaya seni, terus apalagi yang menarik di Pegunungan Menoreh. Ingin sensasi suasana beda lebih menantang, wisatawan dapat menikmati tipe wisata minat khusus seperti downhill mountain bike, canyoning, trekking, camping, tubing, rafting, outbond, flying fox, running dan lain-lain. Tak membosankan, liburan seru-seruan di alam terbuka itu memang mengasikkan. Berani mencoba?

Selain itu juga terdapat ekowisata di Perbukitan Menoreh, seperti pentingnya penghijauan di suatu wilayah, terus membajak sawah menggunakan cara dan peralatan tradisional, caranya menanam padi, memanen padi, mengolah hasil bumi menjadi bermanfaat bagi kehidupan secara arif, grastonomi hingga secara langsung beramah tamah dengan warga setempat.

February 20, 2018

Candi Borobudur

Candi Borobudur dan Pegunungan Menoreh tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Berbicara tentang Menoreh pasti juga akan membicarakan Candi Borobudur. Lokasi candi Borobudur yang berada di kaki pegunungan Menoreh menjadikan pegunungan menorah seolah menjadi dinding yang menjaga candi Borobudur.

Keterkaitan keduanya sangat kental, bahkan kontur puncak pegunungan menoreh jika dilihat dengan seksama menggambarkan siluet Sang Budha yang sedang tidur.

Ketika kita berada di candi Borobudur, dengan gagahnya pegunungan menorah berdiri kokoh di sisi selatan, tampak hijau dan menyejukkan mata. Begitu juga ketika berada di beberapa puncak pegunungan Menoreh, candi Borobudur tambah dengan cantic dan sangat menawan. Apalagi ketika sunrise, kesan dramatis dengan guratan kabut di sekeliling candi Borobudur akan menjadi pemandangan yang indah dan mahal.

Borobudur (translit. Candhi Barabudhur) adalah sebuah candi Buddha yang terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Candi ini terletak kurang lebih 100 km di sebelah barat daya Semarang, 86 km di sebelah barat Surakarta, dan 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta. Candi berbentuk stupa ini didirikan oleh para penganut agama Buddha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra. Borobudur adalah candi atau kuil Buddha terbesar di dunia, sekaligus salah satu monumen Buddha terbesar di dunia.

Monumen ini terdiri atas enam teras berbentuk bujur sangkar yang di atasnya terdapat tiga pelataran melingkar, pada dindingnya dihiasi dengan 2.672 panel relief dan aslinya terdapat 504 arca Buddha. Borobudur memiliki koleksi relief Buddha terlengkap dan terbanyak di dunia. Stupa utama terbesar teletak di tengah sekaligus memahkotai bangunan ini, dikelilingi oleh tiga barisan melingkar 72 stupa berlubang yang di dalamnya terdapat arca Buddha tengah duduk bersila dalam posisi teratai sempurna dengan mudra (sikap tangan) Dharmachakra mudra (memutar roda dharma).

Monumen ini merupakan model alam semesta dan dibangun sebagai tempat suci untuk memuliakan Buddha sekaligus berfungsi sebagai tempat ziarah untuk menuntun umat manusia beralih dari alam nafsu duniawi menuju pencerahan dan kebijaksanaan sesuai ajaran Buddha. Para peziarah masuk melalui sisi timur dan memulai ritual di dasar candi dengan berjalan melingkari bangunan suci ini searah jarum jam, sambil terus naik ke undakan berikutnya melalui tiga tingkatan ranah dalam kosmologi Buddha. Ketiga tingkatan itu adalah Kāmadhātu (ranah hawa nafsu), Rupadhatu (ranah berwujud), dan Arupadhatu (ranah tak berwujud). Dalam perjalanannya para peziarah berjalan melalui serangkaian lorong dan tangga dengan menyaksikan tak kurang dari 1.460 panel relief indah yang terukir pada dinding dan pagar langkan.

Menurut bukti-bukti sejarah, Borobudur ditinggalkan pada abad ke-14 seiring melemahnya pengaruh kerajaan Hindu dan Buddha di Jawa serta mulai masuknya pengaruh Islam. Dunia mulai menyadari keberadaan bangunan ini sejak ditemukan 1814 oleh Sir Thomas Stamford Raffles, yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Jenderal Inggris atas Jawa. Sejak saat itu Borobudur telah mengalami serangkaian upaya penyelamatan dan pemugaran (perbaikan kembali). Proyek pemugaran terbesar digelar pada kurun waktu 1975 hingga 1982 atas upaya Pemerintah Republik Indonesia dan UNESCO, kemudian situs bersejarah ini masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia.

Borobudur kini masih digunakan sebagai tempat ziarah keagamaan; tiap tahun umat Buddha yang datang dari seluruh Indonesia dan mancanegara berkumpul di Borobudur untuk memperingati Trisuci Waisak. Dalam dunia pariwisata, Borobudur adalah objek wisata tunggal di Indonesia yang paling banyak dikunjungi wisatawan.

Dalam Bahasa Indonesia, bangunan keagamaan purbakala disebut candi; istilah candi juga digunakan secara lebih luas untuk merujuk kepada semua bangunan purbakala yang berasal dari masa Hindu-Buddha di Nusantara, misalnya gerbang, gapura, dan petirtaan (kolam dan pancuran pemandian). Asal mula nama Borobudur tidak jelas,[10] meskipun memang nama asli dari kebanyakan candi di Indonesia tidak diketahui. Nama Borobudur pertama kali ditulis dalam buku "Sejarah Pulau Jawa" karya Sir Thomas Stamford Raffles.[11] Raffles menulis mengenai monumen bernama borobudur, akan tetapi tidak ada dokumen yang lebih tua yang menyebutkan nama yang sama persis. Satu-satunya naskah Jawa kuno yang memberi petunjuk mengenai adanya bangunan suci Buddha yang mungkin merujuk kepada Borobudur adalah Nagarakretagama, yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada 1365.

Nama Bore-Budur, yang kemudian ditulis BoroBudur, kemungkinan ditulis Raffles dalam tata bahasa Inggris untuk menyebut desa terdekat dengan candi itu yaitu desa Bore (Boro); kebanyakan candi memang seringkali dinamai berdasarkan desa tempat candi itu berdiri. Raffles juga menduga bahwa istilah 'Budur' mungkin berkaitan dengan istilah Buda dalam bahasa Jawa yang berarti "purba"– maka bermakna, "Boro purba". Akan tetapi arkeolog lain beranggapan bahwa nama Budur berasal dari istilah bhudhara yang berarti gunung.

Banyak teori yang berusaha menjelaskan nama candi ini. Salah satunya menyatakan bahwa nama ini kemungkinan berasal dari kata Sambharabhudhara, yaitu artinya "gunung" (bhudara) di mana di lereng-lerengnya terletak teras-teras. Selain itu terdapat beberapa etimologi rakyat lainnya. Misalkan kata borobudur berasal dari ucapan "para Buddha" yang karena pergeseran bunyi menjadi borobudur. Penjelasan lain ialah bahwa nama ini berasal dari dua kata "bara" dan "beduhur". Kata bara konon berasal dari kata vihara, sementara ada pula penjelasan lain di mana bara berasal dari bahasa Sanskerta yang artinya kompleks candi atau biara dan beduhurartinya ialah "tinggi", atau mengingatkan dalam bahasa Bali yang berarti "di atas". Jadi maksudnya ialah sebuah biara atau asrama yang berada di tanah tinggi.

Sejarawan J.G. de Casparis dalam disertasinya untuk mendapatkan gelar doktor pada 1950 berpendapat bahwa Borobudur adalah tempat pemujaan. Berdasarkan prasasti Karangtengah dan Tri Tepusan, Casparis memperkirakan pendiri Borobudur adalah raja Mataram dari wangsa Syailendra bernama Samaratungga, yang melakukan pembangunan sekitar tahun 824 M. Bangunan raksasa itu baru dapat diselesaikan pada masa putrinya, Ratu Pramudawardhani. Pembangunan Borobudur diperkirakan memakan waktu setengah abad. Dalam prasasti Karangtengah pula disebutkan mengenai penganugerahan tanah sima (tanah bebas pajak) oleh Çrī Kahulunan (Pramudawardhani) untuk memelihara Kamūlān yang disebut Bhūmisambhāra. Istilah Kamūlān sendiri berasal dari kata mula yang berarti tempat asal muasal, bangunan suci untuk memuliakan leluhur, kemungkinan leluhur dari wangsa Sailendra. Casparis memperkirakan bahwa Bhūmi Sambhāra Bhudhāra dalam bahasa Sanskerta yang berarti "Bukit himpunan kebajikan sepuluh tingkatan boddhisattwa", adalah nama asli Borobudur.

SEKRETARIAT & INFORMASI

Kepesertaan

Patrick

081328666664

Sponsorship

Jojo

082117097394

Pembayaran

Ketty

087871868942

Email

pelaripeduli@gmail.com

Sekretariat Panitia

Ruko MERIT No. 7, Jl. Mayjend. Bambang Sugeng KM. 5, Santan Baru, Mertoyudan, Magelang